tugas peramalan


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri;} p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph {mso-style-name:”List Paragraph”; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:.5in; text-align:justify; text-indent:-.25in; line-height:150%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:595.3pt 841.9pt; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:627590338; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:518532214 -472361964 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l0:level1 {mso-level-start-at:3; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level4 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level7 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1 {mso-list-id:1117676037; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1031166348 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1:level4 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1:level6 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1:level7 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1:level8 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l1:level9 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

TUGAS PERAMALAN

Kelompok 8 :

1. Evy Tri Kusumawati M0108018

2. Kartini M0108050

3. Rahmawati Oktriana M0108061

4. Vivi Panca M01080

5. Tri Septiyani M0108109

# Kasus 3-2 Mr. Tux #

John Mosby, salah satu pemilik dari beberapa toko persewaan Mr. Tux, memulai untuk meramalkan variable perusahaan terpentingnya, penjualan bulanan dalam dolar (lihat kasus Mr. Tux pada akhir Bab 1 dan 2 ). Salah satu karyawannya, Virginia Perot untuk mengumpulkan data penjualan yang ditunjukkan pada data di bawah ini :

Table 2.10 Data Penjualan Tiap Bulan Perusahaan Mr. Tux (Dollar)

1989

1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

Jan.

6028

16850

15395

27773

31416

51604

58843

71043

Feb.

5927

12753

30826

36653

48341

80366

82386

152930

Mar

10515

26901

25589

51157

85651

208938

224803

250559

Apr

32276

61494

103184

217509

242673

263830

354301

409567

Mei

51920

147862

197608

206229

289554

252216

328263

394747

Jun

31294

57990

68600

110081

164373

219566

313647

272874

Jul

23573

51318

39909

102893

160608

149082

214561

230303

Ags

36465

53599

91368

128857

176096

213888

337192

375402

Sep

18959

23038

58781

104776

142363

178947

183482

195409

Okt

13918

41396

59679

111036

114907

133650

144618

173518

Nov

17987

19330

33443

63701

113552

116946

139750

181702

Des

15294

22707

53719

82657

127042

164154

184546

258713

John memutuskan untuk menggunakan data 96 bulan yang dia kumpulkan. Dia mengolah data dengan minitab dan memperoleh pola koefisien autokorelasi yang ditunjukkan pada Gambar 3-25. Karena semua koefisien autokorelasinya positif dan menurun sangat lamban, John menyimpulkan bahwa data ini mempunyai trend.

Kemudian, John meminta program untuk menghitung pembedaan pertama dari data. Gambar 3-26 menunjukkan koefisien autokorelasi untuk pembedaan data. Koefisien autokorelasi untuk waktu lag 12, r12 = 0.68, secara signifikan berbeda dari nol.

Akhirnya, John menggunakan program komputer yang lain untuk menghitung persentase variansi pada data asli yang dijelaskan oleh komponen trend, musiman dan acak. Program menghitung persentase variansi pada data asli yang dijelaskan oleh faktor-faktor dalam analisis :

FAKTOR

% YANG DIJELASKAN

Data

100

Trend

6

Musiman

45

Acak

49

Pertanyaan :

1. Ringkaskan hasil analisis John dalam satu paragraf, dimana seorang manager yang bukan seorang peramal, dapat mengerti.

2. Jelaskan pengaruh trend dan musiman yang muncul pada data penjualan Mr. Tux.

3. Bagaimana penjelasan dari garis “acak 49 %”

4. Misalkan bahwa autokorelasi r24 dan r36 signifikan. Apakahdapat disimpulkan bahwa musiman mempunyai sebuah trend? Jika ya, jelaskan bahwa rata-rata oleh trend dalam musiman.

Jawab :

1.

Gambar 1. Grafik Pola Data Penjualan Mr.Tux tahun 1989-1996

KURANG GAMBAR SATU LAGI…..!!!

Dari pola data penjualan bulanan seperti pada gambar 1, seorang manajer dapat mengetahui dengan jelas pola data penjualan Mr.Tux dalam periode 1989 – 1996 mengalami peningkatan dan penurunan dengan pola grafik yang selalu hampir sama. Dalam selang waktu 1 tahun, pada bulan Januari sampai Maret selalu mengalami peningkatan meskipun hanya sedikit. Sedangkan pada bulan April dan Mei hampir tiap tahun mengalami kenaikan yang cukup jelas, bahkan hasil penjualan bulan Mei tahun berikutnya lebih tinggi dibanding bulan Mei sebelumnya. Sehingga terlihat pola musiman hasil penjualan dari bulan Mei mengalami penurunan sampai bulan Januari tahun selanjutnya. Meskipun tidak selalu turun, karena pada bulan tertentu terdapat peningkatan yang sangat kecil dan kemudian meningkat lagi pada bulan Februari sampai bulan Mei kemudian turun lagi seperti pola pada tahun sebelumnya dan begitu seterusnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penjualan bulanan toko peminjaman Mr.Tux mengalami kenaikan setiap tahunnya karena pola datanya mengandung trend naik dan pada tiap tahun penjualannya mempunyai pola yang sama, karena pola datanya mengandung musiman. Peningkatan penjualan tertinggi cenderung terjadi pada bulan Mei dari tahun 1989 – 1996.

2.

Gambar 3. Fungsi autokorelasi dari data Mr. Tux

Dari pada Gambar 3 terlihat bahwa fungsi autokorelasi pada lag 1 sampai dengan lag 6 mengalami penurunan data penjualan dan mengalami kenaikan pada 6 lag berikutnya, kemudian juga mengalami penurunan pada 6 lag berikutnya. Pola ini akan terus berlanjut dengan nilai autokorelasi positif.

Gambar 4. Plot Autokorelasi Data Penjualan Mr. Tux tahun 1989 – 1996

Setelah Mengalami First Differences

Dari gambar 1 dan gambar 2 menjelaskan data penjualan Mr.Tux akan mengalami peningkatan tertinggi dari tahun 1989 – 1996 yang cenderung terjadi pada bulan Mei.

Dari gambar 3 diperoleh berturut-turut nilai koefisien autokorelasinya memiliki nilai yang tinggi di beberapa waktu pada lag pertama yang berarti bahwa secara signifikan nilai koefisien autokorelasinya berbeda dari nol dan kemudian secara perlahan-lahan turun menuju nol. Hal ini menunjukkan bahwa data tersebut berpola trend atau memuat trend.

Dari gambar 4 menjelaskan bahwa pola di atas merupakan pola musiman. Hal ini dikarenakan dalam setahun dibagi menjadi 4 musim (kuartal), yaitu pada lag 4, lag 8, lag 12, dan seterusnya mengalami kenaikan data penjualan pada nilai autokorelasi positif.

3. Dari seluruh data penjualan Mr. Tux terdapat 49 % dari 96 data (48 data) memiliki pola acak yang berarti 49 % dari seluruh datanya tersebar secara acak atau tidak mempunyai pola tertentu yaitu tidak mempunyai pengaruh sama pada bulan-bulan yang sama pada tahun berikutnya. Dan dari fungsi autokorelasi pada gambar 3 terlihat bahwa 49% dari seluruh koefisien autokorelasinya mendekati nol.

4. Iya. Dari gambar 4 autokorelasi antara r24 dan r36 berada dalam interval konfidensi 95%, sehingga autokorelasi antara r24 dan r36 signifikan mendekati nol, yang menunjukkan bahwa pola musiman mempunyai trend. Selanjutnya yang dimaksud rata-rata pada sebuah trend terdapat dalam musiman berarti bahwa secara umum dari tahun 1989-1996, data penjualan Mr. Tux mengalami peningkatan. Sedangkan setiap tahunnya data penjualan Mr. Tux terdapat peningkatan dan penurunan dengan pola yang relatif sama.

Hal ini terjadi karena dari presentase variansi didapatkan presentasi variansi musiman sebesar 45% dari 96 data yaitu sekitar 44 data yang tentunya lebih besar daripada presentase trend yang hanya 6% yaitu 6 data.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

bebaskan

Takdir allah memang siapa yang tau,.

semua yang kita lakukan hanya mengarah dan bertujuan untuk mendapatkan ridhonya..

kadang kita merasa senang sekali, tertawa tebahak-bahak,,tapi belum tentu satu detik kemudian senyum kita masih lebar, tangisan tidak berbeda dengan kebahagiaan…

ada yang salah dengan diriku??

lelah dengan semua ini, ingin bebas Lepas tanpa ada yang mempedulikan

satu masa yang kita hadapi sekarang

dan masa itu harus kita lewati, tak boleh dihindari,.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

PEMANFAATAN MATA AIR SEGORO GUNUNG MENJADI AIR SIAP MINUM (potable water) DAN AIR KEMASAN DENGAN TEKNOLOGI FILTERISASI

A. JUDUL

PEMANFAATAN  MATA AIR SEGORO GUNUNG MENJADI AIR SIAP MINUM (potable water) DAN AIR KEMASAN DENGAN TEKNOLOGI FILTERISASI

B. LATAR BELAKANG MASALAH

Segoro Gunung merupakan salah satu desa di kawasan lereng gunung Lawu. Desa yang masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Karanganyar ini memiliki berbagai sumber daya alam yang sangat potensial. Suhu udara yang sejuk membuat kawasan ini cocok dikembangkan sebagai perkebunan. Beberapa perkebunan yang terlihat berkembang dengan baik adalah perkebunan teh dan strawbery. Sumber daya alam lain yang juga melimpah adalah sumber daya air. Air yang tersimpan dalam bumi Segoro Gunung secara kuantitas terbilang melimpah, keberadaan mata air yang terus mengalir menjadikan persediaan air tak pernah surut. Air yang mengalir dari mata air dialirkan melalui pipa-pipa dan digunakan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti minum, mandi ataupun  mencuci. Selain itu, kondisi air yang bersih dan jernih menjadikan air ini dilirik perusahaan-perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Mereka mengeksplorasi mata air-mata air yang ada kemudian memasarkan ke daerah perkotaan. Eksplorasi secara terus-menerus pada akhirnya dikhawatirkan dapat mengancam masyarakat lokal, karena bukan tidak mungkin  suatu saat masyarakat lokal harus membeli dari perusahan-perusahaan tersebut untuk menggunakan air tersebut.

Pengoptimalan sumber daya air untuk masyarakat lokal menjadi suatu wacana penting. Air yang terus melimpah dan masih alami karena alirannya tidak terlalu jauh dari sumber mata air harus dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Proses konsumsi air oleh masyarakat saat ini masih terpaku pada cara konvensional. Air yang terus mengalir dan dialirkan melalui pipa-pipa masih harus melalui proses pemasakan/pendidihan terlebih dahulu sebelum diminum. Padahal jika diperhatikan, resiko air tercemar sangat minim, karena langsung dari sumber mata air. Selain itu, proses pemasakan/pendidihan membutuhkan energi yang terbilang besar. Hal ini mengingat titik didih di daerah tersebut tinggi, sehingga membutuhkan waktu yang lama dan bahan bakar yang lebih banyak untuk sekedar mendidihkan air.

Salah satu alternatif untuk mengatasi penggunaan energi yang berlebih dalam proses konsumsi air adalah menciptakan suatu sistem penjernihan air yang sederhana. Penjernihan air dapat dilakukan dengan membuat filter di beberapa titik yang menghubungkan pipa-pipa air dengan rumah penduduk. Dengan adanya sistem tersebut, air yang masih alami tadi dapat langsung dikonsumsi tanpa harus dimasak terlebih dahulu karena air sudah masuk dalam ketegori sesuai syarat menjadi air minum. Hal ini sesuai dengan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum bahwa syarat air minum itu harus bebas dari bahan-bahan anorganik dan organik. Dengan kata lain kualitas air minum harus bebas bakteri, zat kimia, racun, limbah berbahaya dan lain sebagainya. Filterisasi yang dilakukan minimal telah menyaring bahan-bahan organik berbahaya, sedangkan zat-zat kimia beracun diperkirakan hampir tidak ada karena air langsung dari sumber mata air. Namun demikian akan dilakukan penelitian lebih lanjut di laboratorium untuk mengetahuinya.

Setelah filterisasi berhasil dilakukan, hal lain yang dapat dioptimalkan adalah menjadikan sumber daya air bernilai komersil bagi penduduk setempat. Selain digunakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, masyarakat lokal dapat memanfaatkan air yang melimpah tersebut untuk dikemas dan dijual. Rasa air yang segar karena langsung dari mata air tentunya menjadi nilai tambah tersendiri. Masyarakat luas terutama di perkotaan yang lebih sering menggunakan air ledeng atau air PDAM tentunya akan tertarik untuk mengkonsumsi air yang lebih alami dan sehat. Oleh karena itu, air yang sudah tersedia di alam dan siap digunakan tersebut harus benar-benar mampu dioptimalkan oleh masyarakat desa setempat. Pada akhirnya filterisasi yang ada tidak hanya menghemat energi tapi juga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat lokal dengan menjadikan air sebagai komoditi asli desa Segoro Gunung.

C. PERUMUSAN MASALAH

Permasalahan yang dapat diangkat dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut

1.      Apakah kualitas mata air Segoro Gunung masuk kriteria sebagai air minum?

2.      Bagaimana mengolah mata air Segoro Gunung sehingga memenuhi standar kualitas air minum?

3.      Bagaimana memberikan nilai tambah pada air yang melimpah di Segoro Gunung agar meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.?

D. TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk :

1.      Mengetahui apakah kualitas mata air Segoro Gunung masuk kriteria air minum.

2.      Mengolah mata air di Segoro Gunung sehingga memenuhi standar kualitas air minum.

3.      Memberikan nilai tambah pada air yang melimpah di Segoro Gunung agar meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar.

E. LUARAN YANG DIHARAPKAN

Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah berupa artikel yang dapat digunakan untuk Memberikan informasi kepada masyarakat tentang kualitas mata air Segoro Gunung dan memberikan alternatif pengolahan mata air Segoro Gunung dengan teknologi      filterisasi agar memenuhi standar kualitas air minum serta menghasilkan air kemasan dengan kualitas bermutu tinggi yang siap dipasarkan ke masyarakat luar Segoro Gunung.

F. KEGUNAAN

Melalui penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk:

1.      Memberikan informasi kepada masyarakat tentang kualitas mata air SegoroGunung.

2.      Masyarakat desa Segoro Gunung dapat menghemat energi dan biaya karena tidak memerlukan proses pemasakan sebelum mengkonsumsi air.

3.      Dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan.

4.      Peneliti dapat secara langsung merealisasikan pengadaan filterisasi air di desa Segoro Gunung.

G. TINJAUAN PUSTAKA

Air (H2O) merupakan sebagian unsur kimia yang berada dalam bentuk cair pada tekanan biasa dan pada suhu bilik. Air merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Air diperlukan untuk minum, mandi, mencuci pakaian, pengairan dalam bidang pertanian dan minuman untuk ternak. Selain itu, air juga sangat diperlukan dalam kegiatan industri dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan taraf  kesejahteraan hidup manusia.

Air bersih dan air layak minum  adalah dua hal yang tidak sama tetapi sering dipertukarkan. Tidak semua air bersih  layak minum, tetapi air layak minum biasanya berasal dari air bersih. Air minum adalah air minum rumah tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Air bersih perlu diolah dahulu agar menjadi air layak minum. Salah satu cara yang paling umum untuk mendapatkan air layak minum dari air bersih adalah dengan cara pemasakan yaitu air bersih direbus sampai matang (mendidih) dan biarkan mendidih (tetap jerang   air   di   atas   kompor   yang   menyala,   jangan matikan kompor) selama 3-5 menit untuk memastikan kuman-kuman yang ada di air tersebut telah mati.

Sumber air merupakan salah satu komponen utama yang ada pada suatu sistem penyediaan air bersih, karena tanpa sumber air maka suatu sistem penyediaan air bersih tidak akan berfungsi (Sutrisno, 2000 : 13). Macam-macam sumber air yang dapat di manfaatkan sebagai sumber air minum sebagai berikut :

1.      Air laut

Mempunyai sifat asin, karena mengandung garam NaCl.Kadar garam NaCl dalam air laut 3 % dengan keadaan ini maka air laut tidak memenuhi syarat untuk diminum.

2.      Air Atmosfer

Untuk menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya pada waktu menampung air hujan mulai turun, karena masih mengandung banyak kotoran. Selain itu air hujan mempunyai sifat agresif terutama terhadap pipa-pipa penyalur maupun bak-bak reservoir, sehingga hal ini akan mempercepat terjadinya korosi atau karatan. Air ini juga mempunyai sifat lunak, sehingga akan boros terhadap pemakaian sabun.

3.      Air Permukaan

Adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Pada umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri dan lainnya. Air permukaan ada dua macam yaitu air sungai dan air rawa. Air sungai digunakan sebagai air minum, seharusnya melalui pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi. Air rawa kebanyakan berwarna disebabkan oleh adanya zatzat organik yang telah membusuk, yang menyebabkan warna kuning coklat, sehingga untuk pengambilan air sebaiknya dilakukan pada kedalaman tertentu di tengah-tengah.

4. Air tanah

Air tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah didalam zone jenuh dimana tekanan hidrostatiknya sama atau lebih besar dari tekanan atmosfer. Air tanah terbagi atas air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal, terjadi karena adanya daya proses peresapan air dari permukaan tanah. Air tanah dangkal ini pada kedalaman 15,0 m2 sebagai sumur air minum, air dangkal ini ditinjau dari segi kualitas agar baik, segi kuantitas kurang cukup dan tergantung pada musim. Air tanah dalam, terdapat setelah lapis rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam, tidak semudah pada air tanah dangkal karena harus digunakan bor dan memasukkan pipa kedalamannya sehingga dalam suatu kedalaman biasanya antara 100-300 m2.

5.      Mata air

Mata air adalah  air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah dalam hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitas atau kuantitasnya sama dengan air dalam.

Kualitas air dapat dilihat dari sifat fisika, kimiawi dan biologis. Air yang mempunyai kualitas baik harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :

1.      Parameter fisik

a.       Rasa

Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berasa. Rasa dapat ditimbulkan karena adanya zat organik atau bakteri / unsur lain yang masuk ke badan air.

b.      Bau

Kualitas air bersih yang baik adalah tidak berbau, karena bau ini dapat ditimbulkan oleh pembusukan zat organik seperti bakteri serta kemungkinan akibat tidak langsung dari pencemaran lingkungan, terutama sistem sanitasi.

c.       Suhu

Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktivitas biologi sehingga akan membentuk O2 lebih banyak lagi. Kenaikan suhu perairan secara alamiah biasanya disebabkan oleh aktivitas penebangan vegetasi di sekitar sumber air tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang masuk tersebut mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung atau tidak langsung.

d.        Kekeruhan

Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan – bahan organik dan anorganik, kekeruhan juga dapat mewakili warna. Sedang dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna buangan yang memasuki badan air.

e.    TDS atau jumlah zat padat terlarut (total dissolved solids)

Bahan pada adalah bahan yang tertinggal sebagai residu pada penguapan dan pengeringan pada suhu 1030 – 105o C, dalam portable water kebanyakan bahan bakar terdapat dalam bentuk terlarut yang terdiri dari garam anorganik selain itu juga gas-gas yang terlarut. Kandungan total solids pada portable water biasanya berkisar antara 20 sampai dengan 1000 mg/l dan sebagai satu pedoman kekerasan dari air akan meningkatnya total solids, disamping itu pada semua bahan cair jumlah koloit yang tidak terlarut dan bahan yang tersuspensi akan meningkat sesuai derajat dari pencemaran. Zat padat selalu terdapat dalam air dan kalau terlalu banyak tidak baik untuk air minum, banyaknya zat padat yang disyaratkan untuk air minum adalah kurang dari 500 mg/l. pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan kualitas air minum dalam hal total solids ini yaitu bahwa air akan meberikan rasa tidak enak pada lidah dan rasa mual.

2.       Parameter kimia

1)  pH (derajat keasaman)

Penting dalam proses penjernihan air karena keasaman air pada umumnya disebabkan gas Oksida yang larut dalam air terutama karbondioksida. Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan standar kualitas air minum dalam hal pH yang lebih kecil 6,5 dan lebih besar dari 9,2 akan tetapi dapat menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang sangat mengganggu kesehatan.

2) Kesadahan

Kesadahan ada dua macam yaitu kesadahan sementara dan kesadahan nonkarbonat (permanen). Kesadahan sementara akibat keberadaan Kalsium dan Magnesium bikarbonat yang dihilangkan dengan memanaskan air hingga mendidih atau menambahkan kapur dalam air. Kesadahan nonkarbonat (permanen) disebabkan oleh sulfat dan karbonat, Chlorida dan Nitrat dari Magnesium dan Kalsium disamping Besi dan Alumunium. Konsentrasi kalsium dalam air minum yang lebih rendah dari 75 mg/l dapat menyebabkan penyakit tulang rapuh, sedangkan konsentrasi yang lebih tinggi dari 200 mg/l dapat menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa air. Dalam jumlah yang lebih kecil magnesium dibutuhkan oleh tubuh untuk pertumbuhan tulang, akan tetapi dalam jumlah yang lebih besar 150 mg/l dapat menyebabkan rasa mual.

3) Besi

Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan menyebabkan rasa logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi pada bahan yang terbuat dari metal. Besi merupakan salah satu unsur yang merupakan hasil pelapukan batuan induk yang banyak ditemukan diperairan umum. Batas maksimal yang terkandung didalam air adalah 1,0 mg/l.

4) Aluminium

Batas maksimal yang terkandung didalam air menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 82 / 2001 yaitu 0,2 mg/l. Air yang mengandung banyak aluminium menyebabkan rasa yang tidak enak apabila dikonsumsi.

5) Zat organik

Larutan zat organik yang bersifat kompleks ini dapat berupa unsur hara, makanan maupun sumber energi lainnya bagi flora dan fauna yang hidup di perairan.

6) Sulfat

Kandungan sulfat yang berlebihan dalam air dapat mengakibatkan kerak air yang keras pada alat merebus air (panci / ketel)selain mengakibatkan bau dan korosi pada pipa. Sering dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air bekas.

7) Nitrat dan nitrit

Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat dapat terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang digunakan dan dari oksidasi NO2 oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat yang lebih besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi langsung dengan hemoglobine dalam daerah membentuk methaemoglobine yang dapat menghalang perjalanan oksigen didalam tubuh.

8) Chlorida

Dalam konsentrasi yang layak, tidak berbahaya bagi manusia. Chlorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfektan namun apabila berlebihan dan berinteraksi dengan ion Na+ dapat menyebabkan rasa asin dan korosi pada pipa air.

9) Zink atau Zn

Batas maksimal Zink yang terkandung dalam air adalah 15 mg/l. penyimpangan terhadap standar kualitas ini menimbulkan rasa pahit, sepet, dan rasa mual. Dalam jumlah kecil, Zink merupakan unsur yang penting untuk metabolisme, karena kekurangan Zink dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhan anak.

3. Parameter biologis

1)     Air minum tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit (patogen) sama sekali tidak boleh mengandung bakteri coli melebihi batas-batas yang telah ditentukan yaitu 1 coli/100 ml air . Bakteri pathogen yang mungkin ada dalam air antara lain adalah :

• Bakteri typsum.

• Vibro colerae.

• Bakteri dysentriae.

• Entamoeba hystolotica.

• Bakteri enteritis (penyakit perut).

Air   yang   mengandung       golongan    Coli   dianggap   telah berkontaminasi  (berhubungan) dengan kotoran manusia. Dengan      demikian    dalam    pemeriksaan      bakteriologik,    tidak  langsung diperiksa   apakah   air   itu  telah   mengandung   bakteri   pathogen,   tetapi   diperiksa dengan indikator bakteri golongan Coli. (Sutrisno, 1996).

2) COD (Chemical Oxygen Demand)

COD yaitu suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan misalnya kalium dikromat untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat dalam air .

3) BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Adalah jumlah zat terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah bahan – bahan buangan didalam air (Nurdijanto, 2000 : 15).  Nilai BOD tidak menunjukkan jumlah bahan organik yang sebenarnya tetepi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan. Penggunaan oksigen yang rendah menunjukkan kemungkinan air jernih, mikroorganisme tidak tertarik menggunakan bahan organik makin rendah BOD maka kualitas air minum tersebut semakin baik.

Standar Kualitas Air di Perairan Umum

( Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 1990 )

No

Parameter

Satuan

Kadar Maksimum

Golongan A

Golongan B

Golongan C

Golongan D

FISIKA
1 Bau - - - - -
2 Jumlah zat padat terlarut Mg/L 1000 1000 1000 1000
3 Kekeruhan Skala NTU 5
4 Rasa -
5 Warna Skala TCU 15
6 Suhu oC Suhu udara
7 Daya Hantar Listrik Umhos/cm 2250
KIMIA anorganik
1 Air raksa Mg/lt 0.001 0.001 0.002 0.005
2 Aluminium Mg/lt 0.2 -
3 Arsen Mg/lt 0.005 0.05 1 1
4 Barium Mg/lt 1 1
5 Besi Mg/lt 0.3 5
6 Florida Mg/lt 0.5 1.5 1.5
7 Kadmium Mg/lt 0.005 0.01 0.01 0.01
8 Kesadahan CaCO3 Mg/lt 500
9 Klorida Mg/lt 250 600 0.003
10 Kromium valensi 6 Mg/lt 0.005 0.05 0.05 1
11 Mangan Mg/lt 0.1 0.5 2
12 Natriun Mg/lt 200 60
13 Nitrat sebagai N Mg/lt 10 10
14 Nitrit sebagai N Mg/lt 1.0 1 0.06
15 Perak Mg/lt 0.05
16 .pH 6.5 – 8.5 5 – 9 6 – 9 5 – 9
17 Selenium Mg/lt 0.01 0.01 0.05 0.05
18 Seng Mg/lt 5 5 0.02 2
19 Sianida Mg/lt 0.1 0.1 0.02
20 Sulfat Mg/lt 400 400
21 Sulfida sebagao H2S Mg/lt 0.05 0.1 0.002
22 Tembaga Mg/lt 1.0 1 0.02 0.1
23 Timbal Mg/lt 0.05 0.01 0.03 1
24 Oksigen terlarut (DO) Mg/lt - >=6 >3
25 Nikel Mg/lt - 0.5
26 SAR (Sodium Absortion Ratio) Mg/lt - 1.5 – 2.5
Kimia Organik
1 Aldrin dan dieldrin Mg/lt 0.0007 0.017
2 Benzona Mg/lt 0.01
3 Benzo (a) Pyrene Mg/lt 0.00001
4 Chlordane (total isomer) Mg/lt 0.0003
5 Chlordane Mg/lt 0.03 0.003
6 2,4 D Mg/lt 0.10
7 DDT Mg/lt 0.03 0.042 0.002
8 Detergent Mg/lt 0.5
9 1,2 Dichloroethane Mg/lt 0.01
10 1,1 Dichloroethane Mg/lt 0.0003
11 Heptachlor heptachlor epoxide Mg/lt 0.003 0.018
12 Hexachlorobenzene Mg/lt 0.00001
13 Lindane Mg/lt 0.004 0.056
14 Metoxychlor Mg/lt 0.03 0.035
15 Pentachlorophenol Mg/lt 0.01
16 Pestisida total Mg/lt 0.1
17 2,4,6 Trichlorophenol Mg/lt 0.01
18 Zat Organik (KMnO4) Mg/lt 10
19 Endrin Mg/lt - 0.001 0.004
20 Fenol Mg/lt - 0.002 0.001
21 Karbon kloroform ekstrak Mg/lt - 0.05
22 Minyak dan lemak Mg/lt - Nihil 1
23 Organofosfat dan carbanat Mg/lt - 0.1 0.1
24 PCD Mg/lt - Nihil
25 Senyawa aktif biru metilen Mg/lt - 0.5 0.2
26 Toxaphene Mg/lt - 0.005
27 BHC Mg/lt - 0.21
Mikrobiologik
1 Koliform tinja Jml/100ml 0 2000
2 Total koliform Jml/100ml 3 10000
Radioaktivitas
1 Gross Alpha activity Bq/L 0.1 0.1 0.1 0.1
2 Gross Beta activity Bq/L 1.0 1.0 1.0 1.0

Keterangan :

Golongan A : air untuk air minum tanpa pengolahan terlebih dahulu

Golongan B : air yang dipakai sebagai bahan baku air minum melalui suatu  pengolahan

Golongan C : air untuk perikanan dan peternakan

Golongan D : air untuk pertanian dan usaha perkotaan, industri dan PLTA.

Proses sanitasi air dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan filtrasi air. Desinfeksi air minum dapat dilakukan dengan filtrasi membran. Metode sanitasi yang lain seperti klorinasi tidak digunakan dalam proses pengolahan air minum, karena sisa klor dalam air dapat menimbulkan bau yang mengganggu pada saat dikonsumsi.

Penyaringan (filtrasi) dapat dibedakan menjadi dua yaitu filtrasi dengan pasir dan filtrasi membran. Filtrasi pasir untuk memisahkan partikel berukuran besar (>3mikrometer), mikrofiltrasi membran dapat memisahkan partikel berukuran lebih kecil (0,08 mikrometer), ultrafiltrasi dapat memisahkan makromolekul, nanofiltrasi dapat memisahkan mikromolekul an ion-ion bervalensi dua (misalnya Mg,Ca). Adapun ion-ion dapat dipisahkan dengan membran “reverses osmosis”. Dengan demikian, penggunaan mikrofiltrasi dapat memisahkan bakteri, dan penggunaan ultrafiltrasi dapat memisahkan bakteri dan virus. Bahan tersuspensi dapat dihilangkan dengan cara koagulasi/flokulasi, sedimentasi, filtrasi pasir atau membran filtrasi (mikrofiltrasi). Bahan-bahan terlarut dapat dihilangkan dengan aerasi (misalnya Fe dan Mn), oksidasi (misalnya dengan ozonisasi atau radiasi UV), adsorpsi dengan karbon aktif atau membran filtrasi (reversed osmosis).

Proses pengolahan air minum pada prinsipnya harus mampu menghilangkan semua jenis polutan, baik pencemaran fisik, kimia maupun mikrobiologis. Munculnya usaha air minum isi ulang merupakan fenomena yang tidak dapat dihilangkan. Dengan menjamurnya usaha tersebut, yang diperlukan adalah pengaturan berupa standar  produk dan prosesnya. Dengan begitu bukan hanya pihak konsumen yang terlindungi tetapi juga usaha air minum isi ulang itu sendiri.

Untuk kualitas air minum terdapat persyaratan khusus yang harus dipenuhi antara lain,

Persyaratan Kualitas Air Minum  Menurut Keputusan Menteri Kesehatan

Nomor 907/ tahun 2002.

Parameter

Satuan

Kadar maksimum yang diperbolehkan

FISIKA
warna

TCU

15

Temperature

°C

Suhu udara ± 3°C

Kekeruhan

NTU

5

Rasa dan Bau

-

Tidak berasa dan tidak berbau

KIMIA

Tembaga

mg/l

2

Nitrat

mg/l

50

Nitrit

mg/l

3

Ammonia

mg/l

1.5

Klorida

mg/l

250

Tembaga

mg/l

1

Kesadahan

mg/l

500

Besi

mg/l

0.3

Sulfat

mg/l

250

Total zat padat terlarut

mg/l

1000

Seng

mg/l

3

Zat Organik

mg/l

5,377

PH

-

6,5-8,5

BIOLOGI
E.Coli ataufecal coli

Jumlah per 100 ml sampel

0

Total Bakteri Coliform

Jumlah per 100 ml sampel

0

H. METODE PENELITIAN

H.I Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Penelitian ini akan dilaksanakan di desa Segoro Gunung, Kabupaten Karanganyar untuk pengambilan sampel dan pembuatan filter. Untuk pengujian kandungan air dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret  Penelitian ini akan dilakukan selama 4 bulan.

H.2 Alat dan Bahan

Alat yang digunakan :

1.      Global Position System (GPS)

2.      Botol Sampel

3.      Seperangkat penguji kelayakan air

4.      Filter air

Bahan yang digunakan :

1.      Air dari mata air di Segoro Gunung

2.      Bahan untuk menguji kelayakan air

H.3 Tahapan Pelaksanaan

1.    Pengambilan sampel

Pengambilan sampel dilakukan pada mata air dengan ketinggian tempat yang berbeda untuk mewakili semua kualitas air di semua ketinggian. Dikarenakan posisi Segoro Gunung terletak di lereng yang memiliki ketinggian yang berbeda-beda.

2.    Pengujian Kualitas Air Minum

Masing-masing sampel air tersebut diuji kualitas air minumnya di laboratorium. Kemudian setiap kadar zat-zat syarat kualitas air minum yang terkandung di dalam  masing-masing sampel air tersebut dicatat.

Rancangan percobaan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancangan blok random lengkap Dimisalkan kita mengambil 3 mata air dengan titik yang berbeda-beda. Pengujian tidak cukup dilakukan dengan1 bahan uji. Akan diuji apakah ketiga mata air tersebut mempunyai kadar yang sama untuk bisa menjadi air layak minum.

Mata air

Bahan Uji

1

2

3

1

A1

A2

A3

2

B1

B2

B3

3

C1

C2

C3

3.    Hipotesis

Jika sampel air memenuhi persyaratan kualitas air minum maka semua air dari mata air di Segoro Gunung sudah layak diminum.

4.      Filterisasi air

Air dimasukkan ke dalam bak penampungan kemudian alat filterisasi dipasang pada bak penampungan. Filterisasi menggunakan metode reverse osmosis.

5.      Pipa saluran air tersebut  langsung dihubungkan ke tempat tinggal warga Segoro Gunung.

6.      Air sudah siap diminum tanpa proses pemasakan terlebih dahulu. Air dari mata air tersebut digunakan masyarakat setempat dan juga dikemas untuk dipasarkan ke masyarakat luas.

Skema Metode Penelitian

Perancangan pengambilan sampel

Sampel (air Segoro Gunung)

Filterisasi Air pada bak penampungan yang terhubung pipa

Pipa-pipa air bersih terhubung ke rumah penduduk

Air bersih siap digunakan tanpa pemasakan

Air digunakan untuk kebutuhan warga lokal

Air dikemas dan dipasarkan

I. Jadwal Kegiatan Program

No

Kegiatan

Bulan I

Bulan II

Bulan III

Bulan IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

I

II

III

IV

1 Penentuan Desain Riset
2 Pengambilan sampel
3 Pengujian sample di laboratoriun
4 Pemasangan alat filter
5 Penyusunan laporan

L. Biaya Pelaksanaan Program

No Rincian Harga Satuan Banyak Jumlah(Rp)
1. Transportasi

-Survey

-         Pengujian

@ Rp. 25.000

@ Rp. 10.000

3

20

750.000

200.000

2. Bahan Penguji @ Rp. 500.000 3

1.500.000

3. Konsumsi Surveyor @ Rp. 15.000 25

375.000

4. Buku Panduan @ Rp. 25.000 3

75.000

5. Alat Filter @ Rp. 6.500.000 1

6.500.000

6. Akses Internet @ Rp. 5.000 20

100.000

7. Pembuatan Laporan hasil akhir

-HVS

-Print

@ Rp. 35.000

@ Rp. 50.000

1

5

35.000

250.000

Total

9.785.000

L. DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 / 2001 Syarat-syarat Pengawasan Kualitas Air. Jakarta.

Suyono, 1993. Pengelolaan Sumber Daya Air. Fakultas Geografi Universitas

Gadjah Mada. Yogyakarta

Wulan, AIS. 2005. Kualitas Air Bersih Untuk Pemenuhan Kebutuhan Rumah Tangga Di Desa Pesarean Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang.

http://kuliah.ftsl.itb.ac.id/wp-content/uploads/2009/03/pengantar-pengolahan-air-bersih-compatibility-mode.pdf

http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Laporan/kualitas.html

http://www.airminumisiulang.com/page.php?ph_ai

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

siang menampakkan malamnya buat aku, tak ada arah kukira.. harapan titik cahaya kecil tidak nampak..tapi terus berusaha mencari,,terus berjalan..hingga kutemukan cahaya itu..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

math_08

Memasuki awal semester genap di matematika, ga terasa 1 tahun lebih di sini. suka duka bareng ma anak-anak math 08..semangat..semangat!!!!

Tags:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments

Hello world!

Welcome to UNS Social Network ™.
Terima Kasih telah menggunakan blog staff UNS. Selamat menggunakan blog. Untuk Kesulitan silahkan ym dengan admin YM : w4ww4n , you_dhi_aks, dan hendri_des

Atau kunjungi blog admin
Admin 1 :Ardian M. Prastiawan
Admin 2 :Sri Wahyudi (FMIPA)
Admin 3 :Hendri Desitwanto (FKIP)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS
Read Comments